Kursi Kosong di Sebelah Jendela
Setiap sore, lelaki tua itu selalu datang ke stasiun yang sama. Ia duduk di kursi kayu dekat jendela, mengenakan kemeja putih yang mulai kusam dan membawa dua gelas kopi dalam kantong kertas. Satu untuk dirinya, satu lagi selalu ia letakkan di kursi sebelahnya. Orang-orang yang sering melihatnya mulai mengenal kebiasaan itu. Mereka pernah bertanya, tetapi lelaki itu hanya tersenyum dan berkata, “Saya sedang menunggu seseorang.” Tak pernah ada yang tahu siapa yang ditunggunya. Tak pernah ada pula yang tega mengatakan bahwa mungkin orang itu tidak akan pernah datang.
Dua puluh tahun sebelumnya, di stasiun yang sama, lelaki itu pernah mengantar istrinya pergi. Saat itu mereka sedang bertengkar hebat. Istrinya mendapat tawaran pekerjaan di kota lain dan ingin pergi selama beberapa bulan. Lelaki itu, yang sedang keras kepala dan merasa ditinggalkan, mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia ucapkan. “Kalau kamu memang ingin pergi, pergilah. Aku tidak akan menunggumu.” Istrinya terdiam cukup lama. Ia hanya menatap wajah suaminya, lalu tersenyum tipis sambil berkata, “Baik. Tapi kalau suatu hari aku pulang, aku harap kamu masih ada di sini.” Kereta kemudian berangkat, membawa perempuan yang dicintainya pergi bersama semua kata yang belum sempat ia tarik kembali.
Beberapa minggu kemudian, kabar buruk datang. Kereta yang ditumpangi istrinya mengalami kecelakaan di perjalanan pulang. Tidak ada kesempatan untuk mengucapkan maaf. Tidak ada pelukan terakhir. Tidak ada kesempatan untuk mengatakan bahwa kalimat di stasiun itu sebenarnya hanya lahir dari rasa takut kehilangan. Sejak hari itu, lelaki tersebut hidup dengan satu penyesalan yang tidak pernah benar-benar sembuh. Ia tetap pergi bekerja, tetap makan, tetap tidur, tetapi setiap sore ia kembali ke stasiun. Ia membeli dua gelas kopi, lalu duduk di tempat yang sama. Barangkali itu caranya menghukum dirinya sendiri. Atau mungkin itu satu-satunya cara agar kenangan tentang istrinya tidak ikut mati.
Tahun berganti tahun. Rambutnya memutih, langkahnya semakin lambat, dan stasiun itu berubah menjadi lebih modern. Namun kursi dekat jendela masih ada. Suatu sore, seorang petugas baru memberanikan diri bertanya, “Pak, sebenarnya siapa yang Bapak tunggu?” Lelaki itu tersenyum sambil menatap rel yang mulai gelap. “Istri saya,” jawabnya pelan. “Dia pernah berjanji akan pulang.” Petugas itu terdiam, lalu berkata hati-hati, “Pak… sudah dua puluh tahun.” Lelaki tua itu mengangguk. Matanya berkaca-kaca. “Saya tahu. Tapi saya juga pernah berjanji. Saya bilang saya tidak akan menunggunya. Jadi sekarang saya menunggu, supaya setidaknya satu janji kami ada yang saya tepati.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, lelaki tua itu tidak membawa pulang dua gelas kopi. Ia hanya membawa satu. Sebelum meninggalkan stasiun, ia menatap kursi kosong di sebelahnya dan berbisik, “Maaf aku terlambat mengatakannya.” Kemudian ia berjalan pulang dengan langkah pelan. Keesokan paginya, petugas menemukan sebuah surat kecil di atas kursi. Isinya hanya satu kalimat: “Kalau kamu sudah sampai rumah, jangan menungguku lagi.” Sejak hari itu, lelaki tua itu tidak pernah kembali ke stasiun. Namun setiap sore, ketika matahari tenggelam di balik rel, kursi dekat jendela itu selalu menyisakan bayangan seolah-olah masih ada dua orang yang duduk berdampingan—sepasang kekasih yang akhirnya berdamai, meski terlambat dua puluh tahun.